Tuesday, November 29, 2011

Book Review: The Porn Trap, by Wendy Maltz & Larry Maltz

Back in the 1980s, Wendy Maltz and her husband and fellow therapist, Larry, were not that concerned about pornography. Like most in the field, they thought it was essentially harmless. The use of porn was even promoted at professional trainings as a way to help couples reinvigorate their sex lives. Then the authors noted a trend: porn was moving couples away from being sexually intimate with each other. For too many of their clients, porn itself had become the object of desire. They wrote Porn Trap because "We believe you have a right to healthy, love-based sexual expression, and that today's multi-media driven pornography is interfering with that right" (p. 8).

The authors share this gem of a line from the 14th Century Sufi poet, Hafiz:

Learn to recognize the counterfeit coins
that may buy you just a moment of pleasure,
but then drag you for days
like a broken man
behind a farting camel.

The Maltzs' case material was gleaned from interviews with those whose lives have been depleted by porn. "While pornography may promise sexual freedom, it can eventually deliver a form of sexual oppression--robbing people of sexual innocence, sexual self-determination, and the skills to experience healthy relationships based on a loving connection with a real partner" (p. 8). The cases in the book make real the suffering, but also help illuminate the way out. And that's one real value of the book: if you're stuck, you read of others who have been, too, but have made their way out. When you've been stumbling in the dark, such rays of hope are precious.

Here's what I appreciate most about the book: the authors back up their compassion and optimism by providing practical tools. They suggest steps for deciding whether porn is hampering your happiness and relationships, tactics for quitting porn if you decide it is a problem, and in-the-bedroom practices for turning your sex life around so that it can build closeness and fulfillment in place of the separation and depletion that pornography fosters. Wendy Maltz's expertise in healthy sexuality and some great material from her previous books are distilled into the chapter entitled "A New Approach to Sex."

Of the many tools the authors share, I'll highlight a couple I find particularly helpful:

When you feel the gravitational pull of porn, here's something you can do to literally come to your senses. It's an exercise they entitle Shifting Your Attention. "A simple sensory awareness exercise can help you shift your attention away from what you've been thinking about and on to something else in your environment. For example, 'Now I'm aware of the sun coming through the window." Repeat and complete the phrase 'Now I'm aware of...' until you have identified five different things that you see. Continue the exercise stating five different things you are aware of hearing, then five different things you are aware of touching or feeling inside your body. This exercise can help center you sensually in the reality of your present environment and take you farther away from the fantasy world of porn" (p. 195).

This is a theme throughout the book: real life--everything from real events to real emotions to your flesh-and-blood lover--are antidotes to the unreal world of porn. This theme reaches its pinnacle in one of the final skills they cover, Involving Your Heart in Sex, which is needed because porn-informed sex is all about stimulation rather than heartfelt connection. When you are engaged in sexual activity:
  • Take a moment to touch your heart or your partner's heart to activate or stay connected to feelings of caring and love.
  • Take time to smile and make loving eye contact with your partner. 
  • Temporarily shift your awareness from your genital arousal to the attributes you most admire and appreciate about your partner.
  • Take time to verbally express your feelings of affection to your partner.
  • Touch in loving and affectionate ways that you have learned will be valued and appreciated by your partner.
Thank you Wendy and Larry for this invaluable book! Your deep care for those caught in the porn trap shines through. Your work is helping make that group smaller--one person, one couple at a time!


Monday, November 28, 2011

Romusa, Pergi Menjemput Mati

Jika orang Indonesia diminta untuk mengatakan satu faktor yang menjadi pengalaman paling mengerikan selama pendudukan Jepang, mungkin dia akan menjawab ROMUSA. Kata Jepang Romusa yang hebat ini secara harfiah berarti seorang yang melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar. Akan tetapi, dalam konteks sejarah Indonesia istilah ini mempunyai pengertian khusus yang mengingatkan rakyat akan pengalaman yang sangat pahit di bawah pemerintahan militer Jepang yang kejam.
Bagi seorang Indonesia, romusa berarti seorang buruh kuli yang dimobilisasikan bagi pekerjaan kasar dibawah kekuasaan Jepang. Mereka pada umumnya petani biasa, yang di luar kehendak mereka, diperintahkan supaya bekerja pada proyek-proyek pembangunan dan pabrik. Jutaan orangJawa dimobilisasikan dengan cara ini dan tidak sedikit diantaranya yang dikirim ke luar negeri. Banyak diantaranya meninggal karena kerja keras dan kondisi kesehatan yang sangat buruk. Banyak yang lainnya, yang cukup beruntung bertahan hidup, menderita akibat penyakit, kekurangan gizi, dan luka-luka. Keluarga mereka, yang mencari nafkahnya dibawa pergi, menderita akibat kemiskinan, dan tanah pertanian sering dibiarkan tak ditanami karena langkanya tenaga kerja. Akhirnya, hal ini yang menyebabkan situasi rendahnya produktifitas pertanian.
Salah satu tujuan pokok pendudukan Jepang di Asia Tenggara adalah untuk memperoleh sumber-sumber ekonomi dan untuk menciptakan suatu landasan pokok ekonomi yang penting demi kelangsungan perang di sana. Untuk mewujudkan tujuannya itu, Jepang menganggap tenaga kerja di Jawa yang berlebihan karena Jawa adalah pulau paling padat penduduknya sebagai sumber daya terpenting di Asia Tenggara. Sejak awal peperangan meletus, penguasa Jepang telah bersungguh-sungguh memobilisasi efektif atas tenaga kerja di Jawa dan memasoknya ke seluruh wilayah Selatan. Pada bulan November 1942, perjanjian ditanda tangani di Shngapura antara Kepala Staf A.L. Barat Daya dan Kepala Staf A.D. Tentara Selatan yang menyangkut pertukaran komoditi dan bahan-bahan. “Tenaga Kerja” pun menjadi komoditi yang dipertukarkan.
Kemanakah para romusa dipekerjakan? berdasarkan kesaksian, romusa dipaksa bekerja tidak hanya didaerah yang berdekatan, tetapi diangkut kemanapun kalau terdapat tuntutan akan tenaga kerja oleh pihak Jepang.
romusha-01bDi Pulau Jawa, Banten merupakan daerah utama penerima romusa, Diantara 17 keresidenan dan 2 kerajaan di Jawa, Banten memiliki kepadatan penduduk yang paling rendah, hanya 129,33 orang/km persegi, sementara rata-rata di Jawa 315,33 orang/km persegi. Para tenaga kerja romusa diperkerjakan pada pembangunan jalur kereta api sepanjang 150 km antara Saketi- Bayah. Jalur ini yang menghubungkan jalur kereta api yang ada antara Labuan dan Jakarta dengan wilayah patai selatan keresidenan dimana terdapat deposit tambang.
Disamping mereka yang dikirim ke Banten, banyak diantaranya yang dikirim ke luar Jawa. Mereka di angkut hampir semua bagian Asia Tenggara dan beberapa bagian wilayah pasifik selatan, tempat dilaksanakannya proyek-proyek strategis. Salah satu proyek besar di Asia Tenggara yang melibatkan Romusa Jawa adalah pembangunan jalan kereta api Burma-Siam yang dimulai bulan Juli 1942 dan berakhir bulan Oktober 1943.
Sebuah usaha yang penting lain untuk memberikan gambaran “mulia” bagi romusa adalah kampanye mengirim Soekarno dan pemimpin terkemuka lainnya selama seminggu sebagai romusa. Kampanye tersebut pertama kali dijalankan pada September 1944 dengan sponsor Jawa Hokokai melalui slogan “Pekan Perjuangan Mati-Matian”. Sebelum kampanye dimulai, media masa mengumumkan bahwa Soekarno akan menjadi romusa, setiap orang yang ingin bergabung dengan pelayanan tenaga kerja ini bersama para pemimpin Hokokai harus mengirim lamaran. Himbauan tersebut dilakukan berulang-ulang, dan sekitar 500 orang menanggapinya. Diantaranya Mr. Sartono, Asikin Natanegara, Ir. Sukiman, Mr. Moh Roem, Mr. Rauf Thayeb, Muhidin, dan Suratno.
Menjelang keberangkatan, Soekarno berpidato dan menjelaskan bahwa tujuan usaha ini ialah untuk menunjukan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Dia berjanji bahwa dia dan rekan-rekannya dal`m rombongan tersebut tidak akan bercukur selama pengabdian mereka sebagai romusa sebagai tanda bukti kepada negara.
Pidato Soekarno itu singkat, padat , namun memikat. Dalam propagandanya didepan corong radio Soekarno berseru :
“Saya seorang Insinyur! Tapi saya, tidak dapat berbuat apa-apa dengan titel saya itu, kalau pekerjaannya tidak ada.”
Soekarno Menjadi Romusa
Soekarno Menjadi Romusa
Hampir setiap hari selama kampanye, media massa selalu melaporkan kegiatan delegasi romusa “terpelajar” ini dengan berita utama. Foto-foto Soekarno yang sedang melakukan pekerjaan kasar berkali-kali muncul di koran dan majalah, dengan pemberitaan bahwa dia tinggal di pondok sederhana dan makan makanan seadanya seperti beras, sayuran dan ikan asin. Dia mengenakan celana pendek dan pita lengan dengan nomor romusa 970, persis seperti romusa biasa. Juga diperlihatkan saat dia mengangkat karung pasir yang digunakan dalam pekerjaan pembangunan. Ketika rombongan kembali ke Statsiun Tanah Abang di Jakarta pada tanggal 10 September 1944, setelah seminggu bekerja, koran-koran kembali melaporkan peristiwa tersebut dengan pemberitaan besar-besaran. Setelah rombongan pertama dipimpin Soekarno kembali ke Jakarta, rombongan kedua diorganisir dibawah prakarsa Otto Iskandardinata. Kelompok ini berangkat pada akhir bulan Oktober 1944, berjumlah 622 romusa terpelajar. Asia Raya 23 Oktober 1944 memberitakan, ada sedikit tenggang waktu antara rombongan pertama dengan kedua untuk menghindari bulan puasa.
Setelah rombongan kedua ini menjalankan tugasnya, romusa terpelajar berskala nasional yang di sponsori oleh Jawa Hokokai tidak lagi diselenggarakan. Meskipun demikian, usaha-usaha serupa tetap dilakukan pada tingkat daerah.
—————-

romusa yang selamat
romusa yang selamat
Romusa merupakan luka sejarah yang digoreskan fasis Jepang yang hingga kini masih membekas– khususnya bagi orang-orang yang menjadi romusa “sejati” bukan romusa “terpelajar” atawa romusa “propaganda”, bahkan mungkin bagi keturunannya. Sebagai konsekuensi dari masa pendudukan, lantas perlukah kita bertanya: siapa yang bertanggung jawab dan menyukseskan program romusa ini? Haruskah beban itu ditimpakan kepada Soekarno? bukankah para pemimpin nasional lainnya dan para “terpelajar” juga menyukseskan romusa. Pada posisi ini, Soekarno memang memiliki beban moril yang cukup berat dibanding tokoh-tokoh nasional lainnya. Pasalnya, dialah tokoh tertinggi yang notabene bekerja sama dengan Jepang melakukan kampanye propaganda dalam romusa ini.
Pada akhirnya Soekarno mengakui bahwa dirinya membantu Jepang dalam pengerahan romusa. Pengakuan pahit, namun dengan jantan diungkapkannya.
“Kukatakan aku mengakui, sejumlah kenangan membuat sakit untuk ditulis. Halaman-halaman ini terasa sulit bagiku untuk menulis masa-masa itu tanpa suatu emosi. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, luka-luka itu masih belum sembuh sama sekali. Perbuatan-perbuatan yang harus kulakukan dan penderitaan yang harus kutahan akibat ulah sekelompok pemuda yang tidak mau mengerti, adalah bekas-bekas luka yang akan kubawa sampai ke liang kubur”.
Ribuan orang tak kembali. Mereka gugur di negeri asing– dan negerinya sendiri. Seringkali para romusa itu diperlakukan kejam, seperti di belenggu berdampingan dengan tahanan perang untuk membuat jalan Birma yang terkenal itu. Soekarno mengakui bahwa dia mengetahui keadaan mereka. Mereka diangkut dengan gerbong-gerbong kereta api yang tertutup rapat tanpa udara, dan ribuan dijejalkan sekaligus. Mereka tinggal kulit pembalut tulang. Dan Soekarno tidak bisa menolong mereka. Dalam kenyataannya, Soekarno yang mengirim mereka pergi kerja. Soekarno mengirim mereka berlayar menuju kematian. Soekarno membuat pernyataan-pernyataan untuk mendukung pengerahan romusa. Soekarno diambil gambarnya di dekat Bogor dengan Caping di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukan betapa mudah dan mulianya menjadi seorang romusa. Soekarnolah yang memberikan mereka kepada orang Jepang. Rasanya mengerikan sekali.
Tidak seorangpun suka kepada kebenaran yang menyedihkan.
Referensi : Kontroversi SANG KOLABORATOR, Hendri F Isnaeni, Penerbit Ombak, 2008, Bab : Romusa, Pergi Menjemput Mati Hal 69-80


Terima kasih buat Kopral Cepot  http://serbasejarah.wordpress.com/

Tuesday, November 22, 2011

Teen Bitch Club - Carmen McCarthy


Carmen is a slutty bitch whose goal is to get an amazing orgasm, all the time. So while she's getting fucked she likes to rub her pussy and clit too, so that she can stimulate herself from as many places as she can. Watch her get that orgasm she's always after!
Release date: 2011.03.20 Carmen helps along
Download from filesonic.com

FuckedHard 18 ? Sienna

Sara May ? We Are With You, Cucumber




MP4| 599MB | 00:39:29| 854×480 |
http://www.filesonic.com/file/3310497364/Sara May-We are with you cucumber.mp4

Glamour Models Gone Bad - Lilly Thai


GlamourModelsGoneBad.11.03.30.Lilly.Thai.Hardcore. XxX.WmV-GGW
Download

http://www.filesonic.com/file/328764...mgb0330lth.wmv

Glamour Models Gone Bad - Leah Luv


GlamourModelsGoneBad.11.03.26.Leah.Luv.Hardcore.Xx X.WmV-GGW
Download from filesonic.com
http://www.filesonic.com/file/328740...mgb0326lvh.wmv

Glamour Models Gone Bad - Lilly Thai


GlamourModelsGoneBad.11.03.12.Nikki.Hunter.Hardcor e.XxX.HR.WmV-GGW
Download from filesonic.com
http://www.filesonic.com/file/313741...mgb0312nhh.wmv

Glamour Models Gone Bad - Olivia Saint


GlamourModelsGoneBad.11.03.27.Olivia.Saint.Hardcor e.XxX.WmV-GGW

Download from filesonic.com
http://www.filesonic.com/file/314441...mgb0327osh.wmv

Tuesday, November 15, 2011

Haji



Apa yg anda pikirkan klo ditanya soal ibadah haji?, pasti macam2 jawabannya, tp tetap dlm 1 arti, yakni ibadah yg hanya dilakukan oleh mereka yg mampu melaksanakan, mampu dlm arti baik fisik serta harta yg lebih.
Indonesia termasuk Negara dgn jemaah haji terbanyak stiap tahunnya, mereka brangkat dgn penuh suka cita serta syukur kpada Allah SWT, saat berangkat mereka diantar oleh kluarga, saudara, tetangga, sahabat, dan teman, begitupun saat mereka kembali stelah melaksanakan ibadah haji, dirumah disambut dan dikerumuni oleh mereka yg ingin mendapatkan berkah atau sekadar ingin dengar cerita, bahkan ada yg datang tuk dpt bagian oleh2.
Disini saya ingin sdikit berbagi cerita kepada anda semua soal haji, saya hanyalah pemuda biasa yg ingin menuangkan sdikit masalah yg mengganjal dihati ini, saya punya tetangga yg sudah haji, punya saudara yg juga sudah haji, dan dikampung saya ini ada lebih dari 15 orang bergelar haji, sering saya dengar bahwa biaya haji tidak murah apalagi yg ikut rombongan ONH Plus jadi intinya berangkat haji itu hanya bagi mreka yg memang punya harta lebih tp ada jg haji yg tanpa biaya alias gratis mreka diberangkatkan oleh sodaranya atau kerabat mungkin juga oleh teman atau sahabat mreka.
Namun alangkah menyedihkan ketika mreka yg bergelar haji masih mempunyai sifat buruk, ada haji yg kikir alias medit, ada yg mrasa dirinya haji trus tiap ke mushola atao mesjid minta tangannya dicium oleh jamaah lain, bahkan ada yg merasa dirinya haji trus sikapnya arogan, jujur saya bukan ahli agama dan ibadah, tp stidaknya saya pnah mendengar bahwa orang yg melaksanakan haji spulangnya perbuatan2 yg dulunya buruk akan mereka rubah menjadi baik, itu yg pernah saya dengar di pengajian mesjid deket tempat tinggal saya.
Mungkin saya ini iri melihat mreka yg bs brangkat haji, bs jadi???. Apalah artinya mreka brangkat haji jk hati mreka masih diliputi sifat buruk, pernah saya hendak meminjam uang untuk membuka usaha kepada salah satu dr mreka yg sudah haji, tp ditolak dgn alas an gak punya uang, aneh????. Mungkin tidak smua orang yg bergelar haji spt itu, tp kbanyakan….
Ya Allah saya minta kepada-Mu berikan saya rejeki yg banyak, mudahkan sgala urusan saya didunia ini dan akhirat nanti, Amien!.
Maaf jk ada dr anda yg membaca ini adalah seorang haji dan menyinggung prasaan anda, saya hanya ingin menuangkan apa yg slama ini mengganjal dihati saya ini.